-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Header Ads

Buku SakMadyoNomics: Ketika Curhat Seorang Lansia Menjadi "Kompas" Bagi Generasi Muda

Jumat, Juli 31, 2026 | 20.20 WIB | Last Updated 2026-07-31T13:20:18Z


GEN-ID ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Siapa bilang usia senja hanya soal duduk manis di kursi goyang, merajut syal, atau sekadar menunggu cucu pulang sekolah?
​Kalau Anda sempat berpikir begitu, tampaknya Anda perlu berkenalan dengan Ibu Nina Tri. Di usianya yang sudah memasuki kepala enam, beliau justru membuktikan bahwa menjadi lansia bukan berarti berhenti berkarya. 

​Belum lama ini, tepatnya pada Kamis (30/07/2026) sebuah acara hangat bertajuk peluncuran buku digelar di NR Resto Padang Golf Pangkalan Jati (PGPJ), Cinere. Buku tersebut diberi judul yang cukup unik dan menggelitik rasa ingin tahu: SakMadyoNomics – Mutiara Hati untuk Generasi Penerus.

​Namun, di balik judulnya yang terkesan gaya, buku ini sebenarnya adalah kumpulan curahan hati yang sangat jujur dan menyentuh dari seorang lansia.


​Dari Duka Menjadi Karya

​Pernahkah Anda merasa sangat sepi atau sedih hingga bingung harus bercerita kepada siapa?

​Dalam sambutannya yang hangat, Ibu Nina sempat berseloroh. Ketika rasa sedih dan kesepian menghampiri di hari tua—apalagi setelah ditinggal pasangan hidup—keinginan untuk bercurhat itu selalu ada. "Rasanya ingin menelpon petugas Damkar yang gercep, lalu ajak ngopi sambil dengar lagu Kopi Dangdut irama jazz," gurau beliau disambut tawa para tamu undangan.

​Namun, alih-alih larut dalam kesedihan atau nelangsa, Ibu Nina memilih berbelok ke depan layar komputer. Beliau mengetik. Menumpahkan segala kenangan, perjalan hidup, suka duka, hingga kesalahan-kesalahan di masa lalu menjadi bait-bait tulisan.

​Maka benar apa kata pepatah: luka boleh jadi cerita, tapi cerita yang ditulis akan menjadi inspirasi.


Menangkal "SerakahNomics" dengan "Sak Madyo"

​Lantas, apa sebenarnya arti dari kata SakMadyoNomics itu?

​Kata ini lahir dari gabungan kearifan lokal bahasa Jawa, sak madyo—yang artinya secukupnya, bersahaja, dan tidak berlebihan—ditambah imbuhan -nomics yang mencerminkan sebuah prinsip hidup.

​Ibu Nina menawarkan konsep ini untuk menangkal virus SerakahNomics yang belakangan marak di tengah masyarakat modern, di mana orang sering kali terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan menimbun harta tanpa batas.

​Seperti yang diulas oleh Dr. Nies Endang Mangunkusumo saat membedah buku ini, hidup bersahaja bukan berarti kikir atau pelit. SakMadyoNomics adalah tentang kesadaran diri: hemat bukan pelit, irit bukan kikir. Yang terpenting, manusia harus bisa berkuasa atas dirinya sendiri dan mampu mengendalikan hawa nafsu.
Prinsip hidup yang sangat relevan, bukan? Terutama bagi generasi muda (Milenial, Gen Z, hingga Gen Alpha) yang hidup di era serba cepat dan rentan terpapar budaya pamer (flexing) di media sosial.


​Warisan yang Tak Akan Pernah Habis

​Kalau kita bicara soal warisan, yang terbayang di pikiran kebanyakan orang mungkin adalah tanah, rumah, atau tabungan di bank. Tapi seperti kata MC dalam acara peluncuran tersebut:
"Kalau emas bisa diwariskan kepada anak cucu, maka pengalaman hidup, kebijaksanaan, dan kasih sayang hanya bisa diwariskan melalui cerita."

​Buku setebal 31 bab ini tidak hanya berisi kenangan pribadi Penulis, tetapi juga merajut kembali tali silaturahmi (ngumpulke balung pisah) antar-keluarga sesepuh pilar ketahanan bangsa—mulai dari tokoh TNI AL, TNI AD, TNI AU, hingga POLRI. Ada kisah persahabatan, seni budaya wayang, hingga perjalanan merawat rasa nasionalisme.

​Ibu Nina jujur mengakui, dalam buku ini beliau juga menuliskan kesalahan dan kekeliruan masa lalunya sebagai orang tua. Mengapa? Agar generasi penerusnya tidak perlu mengulangi lubang kesalahan yang sama. Bukankah itu bentuk kasih sayang orang tua yang paling tulus?


​Pelajaran Penting Bagi yang Muda

​Hadirnya buku SakMadyoNomics ini menjadi pengingat berharga bagi kita yang usianya masih muda atau sedang sibuk-sibuknya meniti karier:

Dengarkanlah Para Senior: Pengalaman hidup para lansia adalah gudang ilmu yang tak ternilai harganya. Jangan sepelekan cerita-cerita dari orang tua kita.

Belajar Hidup Secukupnya: Bahagia itu sederhana. Kita tidak perlu menimbun harta hingga 'tujuh turunan' jika hati tidak tenang. Cukupkan diri, syukuri apa yang ada, dan bagikan manfaatnya bagi sesama.

​Menulislah: Cerita yang hanya diucapkan secara lisan bisa hilang dimakan waktu. Namun cerita yang dituangkan ke dalam tulisan akan menjadi jejak kebaikan yang terus dibaca dan memberi manfaat, bahkan ketika penulisnya sudah tiada.

​Melihat semangat Ibu Nina Tri, rasanya kita yang muda tidak boleh kalah. Usia tua ternyata bukan alasan untuk berhenti berdampak.

​Seperti pesan di akhir acara peluncuran buku hari itu: Orang hebat adalah orang yang berhasil, tetapi orang yang luar biasa adalah orang yang membuat orang lain ikut berhasil.

​Bagaimana dengan Anda? Sudahkah menyempatkan diri mendengarkan "curhatan" atau pengalaman hidup orang tua Anda minggu ini?




Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Muck Rack

HUKUM

EVENT

Video

×
Berita Terbaru Update