GENERASI-ID 🇮🇩 | JAKARTA TIMUR — Auditorium Lantai 8 Universitas Borobudur, Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, Selasa (26/5/2026), dipenuhi kepala sekolah, guru, komite sekolah, hingga para siswa dari berbagai jenjang pendidikan. Mereka datang membawa satu semangat: mengubah wajah sekolah melalui gerakan Triber School.
Di atas panggung, layar besar menampilkan kalimat yang langsung menggugah perhatian peserta:
“Di tangan kepsek yang berdaya, maka anak buah yang tidak berdaya akan menjadi berdaya.”
Disusul kalimat berikutnya:
“Di tangan kepsek yang tidak berdaya, maka anak buah yang berdaya sekalipun menjadi tidak berdaya.”
Kalimat itu menjadi pengingat bahwa perubahan pendidikan selalu dimulai dari kepemimpinan sekolah.
Kegiatan deklarasi tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Dr. Nahdiana, M.Pd, Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Timur Dr. Horale Tua Simanullang, M.Pd, Wakil Rektor III Universitas Borobudur Dr. Syaiful, SE, M.Si, pejabat eselon III dan IV, para kepala sekolah TK, SD, SMP, SMA/SMK, PKBM, pengawas, penilik, Ketua Umum FKKS Jakarta Timur Syamsul Bahri beserta perwakilan komite sekolah dari berbagai wilayah se-Jakarta Timur.
Turut hadir Ir. Shinta Saptaria, M.Sc dari Kementerian Lingkungan Hidup, Wakil Kasudin Pendidikan DKI Jakarta Sarjoko, Yulia Safitri dari Perempuan ICMI, Irmawati Asrur dari Rumah Indonesia, Sekjen MUI A. Tambunan serta berbagai mitra kolaborasi.
Program ini didukung sejumlah sponsor dan kolaborator seperti Rumah Indonesia, MRA Group, PMI, Katalis, Pesona Edu, BAZNAS, dan berbagai pihak lainnya.
Acara dibuka dengan penampilan Tari Nendek Ajer dari SMA PGRI 4 Jakarta. Tarian Betawi tersebut menggambarkan semangat penyambutan tamu dengan gerak yang dinamis, penuh keramahan, dan nuansa kebersamaan khas budaya Jakarta.
Setelah itu, suasana auditorium semakin khidmat saat Paduan Suara SMA Negeri 51 Jakarta tampil membawakan lagu-lagu pembuka kegiatan.
Peserta kemudian diajak menyaksikan pemutaran kaleidoskop perjalanan lima bulan program Triber School di wilayah Jakarta Timur II.
Menjawab Tantangan Pendidikan di Era Perubahan
Triber School hadir sebagai jawaban atas tantangan pendidikan di era perubahan.
Ada tiga persoalan utama yang disorot:
kesenjangan budaya mutu,
karakter di era digital,
serta kebutuhan menghadirkan sekolah yang aman dan nyaman.
“Sekolah harus menjadi ruang tumbuh yang mampu menyiapkan generasi menghadapi perubahan zaman,” demikian salah satu pesan program ini.
Triber School dibangun di atas tiga fondasi utama:
sekolah berkualitas,
sekolah bersih,
dan sekolah berkarakter.
Sekolah berkualitas diwujudkan melalui pembelajaran yang hidup, kepemimpinan yang kuat, dan tata kelola profesional yang berdampak nyata.
Sekolah bersih dibangun melalui budaya kepedulian lingkungan dan pembiasaan baik setiap hari.
Sedangkan sekolah berkarakter hadir melalui disiplin, integritas, hospitality, serta budaya zero tolerance terhadap kekerasan dan intoleransi.
Universitas Borobudur Bukan Sekadar Tempat Belajar
Wakil Rektor III Universitas Borobudur Dr. Syaiful, SE, M.Si dalam sambutannya menyampaikan apresiasi terhadap penampilan siswa-siswi, terutama dari jenjang TK dan SD.
Menurutnya, Universitas Borobudur bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang pembentukan karakter generasi muda.
“Hari ini Universitas Borobudur merasa terhormat bisa menjadi tuan rumah deklarasi Triber School. Sekolah bukan hanya tempat pembelajaran akademik, tetapi juga tempat membangun kebersihan fisik dan mengasah moral,” ujarnya.
Ia juga membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan sekolah-sekolah.
“Kami terbuka untuk kerja sama pelatihan guru, pelatihan lingkungan hidup, dan berbagai pengembangan lainnya. Mari jadikan hari ini sebagai awal perubahan nyata,” katanya.
“Selamat mendeklarasi, selamat berkarya. Kami tunggu karya-karya terbaik kalian semua,” tambahnya.
Dari Tawuran Menuju Transformasi
Kepala Sudin Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur Dr. Horale Tua Simanullang, M.Pd membuka laporannya dengan pantun:
Jakarta kota global jadi tujuan kita
Sekolah maju menjadi harapan
Deklarasi Triber School kita buka
Wujud sekolah berkualitas, bersih, berkarakter
Horale menjelaskan, Triber School merupakan gerakan transformasi sekolah yang menitikberatkan pada tiga aspek utama: berkualitas, bersih, dan berkarakter.
Program ini telah berjalan selama lima bulan dan menjangkau sekitar 280 sekolah negeri serta sekolah swasta dengan partisipasi cukup tinggi.
Dari hasil pemetaan program, sekolah-sekolah masuk kategori high, mayoritas sekolah berada di kategori middle, dan kategori low.
“Jakarta Timur II saat ini masih didominasi kategori middle, yakni 87,5 persen,” ujar Horale.
Ia menjelaskan, sebelum Triber School berjalan, banyak program sekolah masih berjalan sendiri-sendiri dan belum membentuk budaya sekolah yang utuh.
Kini, berbagai kegiatan mulai diarahkan dalam satu ekosistem pembinaan.
Program yang sudah dilakukan antara lain pelatihan guru, workshop kepala sekolah dan wakil kepala sekolah, pelatihan ketua OSIS dan ketua ekstrakurikuler bersama praktisi dan akademisi, hingga pelatihan pengolahan sampah dan pupuk organik.
Sudin Pendidikan juga bekerja sama dengan Prof. Rokhmin Dahuri dari Komisi X DPR RI dalam pelatihan pembuatan pupuk.
Selain itu, digelar pula talk show bersama Caraka dan satpam sekolah guna membangun budaya sekolah yang aman dan tertib.
Program pengolahan sampah organik diarahkan menjadi embrio kewirausahaan siswa sesuai Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026.
Horale mengakui Jakarta Timur II selama ini dikenal sebagai wilayah dengan angka tawuran pelajar yang tinggi.
“Jakarta Timur II pernah berada di tingkat tawuran paling tinggi. Ke depan kami berharap tidak lagi menjadi nomor satu tawurannya,” katanya.
Ia meminta dukungan seluruh kepala sekolah, guru, dan orang tua agar perubahan budaya sekolah dapat terus berjalan.
Bijak Bergawai dan Pendidikan yang Menyentuh Hati
Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Dr. Nahdiana, M.Pd menegaskan Triber School tidak boleh berhenti sebagai seremoni.
“Saya tidak mau datang kalau hanya slogan. Ini harus jadi wujud nyata,” ujarnya tegas.
Nahdiana mengaku sempat berdiskusi spontan dengan para siswa yang hadir dan merasa senang karena anak-anak memahami nilai-nilai dalam Triber School.
“Tadi saya spontan saja diskusi dengan anak-anak. Anak-anak ternyata paham dengan tiga hal yang terkandung dalam Triber School,” katanya.
Namun ia mengingatkan bahwa konsep “tiga ber”—berkualitas, bersih, dan berkarakter—harus memiliki indikator penerapan yang jelas di sekolah.
“Saya ingin tiga ber- itu masing-masing harus punya indikator penerapannya ketika itu dilaksanakan. Jangan hanya jadi seremonial,” ujarnya.
Nahdiana kemudian menekankan bahwa kualitas pendidikan harus dibuktikan melalui karya nyata.
“Profesional itu ditunjukkan dengan karya,” katanya.
Sementara budaya bersih, menurutnya, bukan sekadar urusan fisik sekolah, melainkan bagian dari mutu pendidikan itu sendiri.
“Bersih adalah mutu,” ujar Nahdiana.
Ia menilai tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks dan tidak bisa lagi dijawab dengan pendekatan lama.
“Tantangan pendidikan itu banyak benar di era perubahan seperti saat ini. Semakin hari semakin kompleks dan tidak cukup kita di ruang kelas saja, enggak cukup kita pakai cara yang begitu-begitu saja,” katanya.
Salah satu langkah yang kini mulai menunjukkan hasil, kata Nahdiana, adalah kebijakan Surat Edaran Bijak Bergawai di lingkungan sekolah.
Kebijakan tersebut mengatur penggunaan gawai secara sehat dan terukur di lingkungan satuan pendidikan DKI Jakarta. Dalam pelaksanaannya, siswa diminta menonaktifkan atau menyimpan telepon genggam selama proses pembelajaran berlangsung, kecuali untuk kebutuhan belajar yang diawasi guru.
Sekolah juga diminta membangun komunikasi dengan orang tua agar penggunaan gawai tidak berlebihan dan tidak mengganggu tumbuh kembang anak.
Menurut Nahdiana, kebijakan itu bukan sekadar membatasi penggunaan telepon genggam, tetapi membangun kembali interaksi sosial, fokus belajar, dan karakter peserta didik.
Ia juga mengungkapkan adanya pengakuan dari pihak kepolisian terhadap langkah Dinas Pendidikan DKI Jakarta dalam melakukan deteksi dini radikalisme dan terorisme di lingkungan satuan pendidikan.
“Alhamdulillah kami mendapat pengakuan dari kepolisian bahwa satuan pendidikan DKI Jakarta adalah yang pertama melakukan deteksi dini radikalisme dan terorisme,” ujarnya.
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta juga menerima dua penghargaan dalam rangka Hari Pendidikan Nasional 2025.
Pertama, penghargaan Standar Pelayanan Minimal Pendidikan Tahun 2025 berdasarkan capaian rapor pendidikan terbaik tingkat provinsi.
Kedua, apresiasi pemerintah daerah atas kolaborasi sekolah swasta dalam pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2025/2026.
Bagi Nahdiana, keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya diukur dari administrasi dan angka statistik.
“Ibu bapak kepala sekolah, hidupkan hati kita. Karena kalau kita mengurus pendidikan itu harus hidup hati kita,” katanya disambut tepuk tangan peserta.
Ia berharap Triber School benar-benar menjadi gerakan perubahan budaya sekolah di Jakarta Timur.
“Teman-teman mulai merangkai apa yang sudah dilaksanakan. Agustus 2025, kemudian urban sosial, ketahanan anak, dan urban-urban lain bisa kita ciptakan. Ini harusnya bisa jadi jawaban tantangan pendidikan,” ujarnya.
Penandatanganan Prasasti dan Deklarasi
Sebagai penanda komitmen bersama, dilakukan penandatanganan prasasti deklarasi oleh Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana didampingi wakilnya, Sarjoko, Kasudin Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur Horale Tua Simanullang dan Warek III Universitas Borobudur Syaiful.
Usai sambutan laporan, Horale memimpin langsung deklarasi Triber School yang diikuti seluruh peserta dengan berdiri.
Mengucapkan komitmen sebagai insan pendidikan Wilayah II Kota Administrasi Jakarta Timur dalam mewujudkan sekolah unggul, mewujudkan sekolah bersih, dan mewujudkan sekolah berkarakter.
Suara para peserta menggema memenuhi auditorium.
Para kepala sekolah bertekad menjadikan sekolah berkualitas, bersih, dan berkarakter.
(MP)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar