-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Header Ads

Pembinaan Bela Negara di Jaktim Soroti Peran Keluarga Cegah Tawuran dan Bentuk Karakter Anak

Selasa, Mei 26, 2026 | 14.56 WIB | Last Updated 2026-05-26T08:31:40Z
 


GENERASI-ID 🇮🇩| JAKARTA TIMUR — Upaya pencegahan tawuran pelajar dan kenakalan remaja dinilai tidak cukup hanya mengandalkan sekolah maupun aparat penegak hukum. Keluarga, terutama orang tua, menjadi benteng pertama dalam membentuk karakter anak sekaligus menjaga ketahanan sosial masyarakat.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Pembinaan Kesadaran Bela Negara Tahun 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur, Selasa (26/5/2026). Kegiatan berlangsung secara hybrid dan diikuti unsur pemerintah, organisasi perempuan, serta lembaga kemasyarakatan.

Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Timur Eka Darmawan, yang membuka acara mewakili Wali Kota Jakarta Timur, mengatakan penguatan nilai bela negara tidak hanya berkaitan dengan pertahanan dalam arti sempit, tetapi juga dimulai dari lingkungan keluarga.

Menurut dia, keterlibatan orang tua—terutama ibu—berpengaruh besar terhadap pembentukan perilaku anak.

“Power of mama itu luar biasa. Dalam pengalaman saya sebagai pamong, banyak program pemerintah yang berhasil karena dukungan ibu-ibu,” ujar Eka.

Ia menilai kedekatan emosional antara orang tua dan anak menjadi faktor penting dalam mendeteksi perubahan perilaku sejak dini, termasuk potensi keterlibatan remaja dalam pergaulan berisiko.



Keluarga Dipandang Jadi Garda Pencegahan Tawuran

Pelaksana Harian Kepala Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Administrasi Jakarta Timur Ari Budi Yuswanto menjelaskan, kegiatan pembinaan bela negara merujuk pada regulasi peningkatan kesadaran bela negara di daerah.

Menurut Ari, penguatan keluarga menjadi pendekatan yang dipilih untuk menjawab persoalan sosial di kalangan remaja.

“Tujuan akhirnya adalah melahirkan kader bela negara yang mengedepankan kepentingan bangsa dan negara dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” kata Ari.

Ia menyebut program tersebut terinspirasi dari "Gerakan Ibu Memanggil”, yang sebelumnya digagas untuk menekan angka tawuran pelajar. Namun, konsep itu diperluas menjadi “Gerakan Keluarga Memanggil”, dengan melibatkan seluruh anggota keluarga dalam pengawasan anak.

“Kalau ada anak belum pulang di atas jam 10 malam, bukan hanya ibunya yang mencari, tetapi juga ayah, kakak, dan seluruh keluarga ikut peduli,” ujarnya.

Pendekatan itu dinilai penting di tengah meningkatnya tantangan pengasuhan akibat perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta menurunnya interaksi keluarga.

Narasumber Ketua Harian Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DKI Jakarta Dr. Harationo, M.Si serta Ursilawati, S.Sos., pejabat fungsional perencana pada unit Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan Perlindungan Hak Anak Wilayah III.

Sebanyak 19 organisasi perempuan dan lembaga kemasyarakatan turut terlibat, di antaranya Tim Penggerak PKK Kota Administrasi Jakarta Timur, Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS), Muslimat Nahdlatul Ulama, Aisyiyah, Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI), hingga organisasi kebudayaan Betawi.



Bela Negara Tak Sekadar Pertahanan, tetapi Menjaga Toleransi Sosial

Dr. Harationo, M.Si menekankan bahwa semangat bela negara pada era saat ini tidak hanya dimaknai sebagai kesiapan mempertahankan wilayah, tetapi juga menjaga persatuan, toleransi, dan inklusi sosial di tengah masyarakat yang beragam. Ia mengajak peserta melihat pentingnya menghargai perbedaan suku, agama, budaya, dan latar belakang sosial sebagai bagian dari ketahanan bangsa. 

Ia menilai ancaman terhadap persatuan bangsa kini tidak selalu berbentuk konflik fisik, melainkan juga intoleransi, perpecahan sosial, perundungan, hingga perilaku kekerasan di lingkungan remaja. Karena itu, keluarga dan komunitas dipandang memiliki peran strategis menanamkan nilai empati, gotong royong, disiplin, dan kepedulian sejak usia dini.

Paparan tersebut juga diperkuat dengan tayangan edukatif mengenai toleransi dan inklusi sosial, yang menekankan pentingnya membangun ruang hidup bersama yang saling menghormati di tengah keberagaman. Nilai itu dinilai sejalan dengan tujuan pembinaan bela negara, yakni menciptakan warga yang memiliki kepedulian sosial, cinta tanah air, serta mampu menjaga harmoni kehidupan bermasyarakat. 

Dengan pendekatan itu, konsep bela negara dipahami bukan hanya sebagai kewajiban terhadap negara, tetapi juga diwujudkan melalui sikap sehari-hari: menghargai perbedaan, mencegah kekerasan, dan membangun lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang generasi muda.


Pengasuhan dan Kesehatan Mental Anak Jadi Sorotan

Ursilawati, S.Sos., dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) menyoroti persoalan pengasuhan yang dinilai telah berkembang menjadi isu struktural. Data nasional menunjukkan masih tingginya kasus kekerasan terhadap anak serta persoalan kesehatan mental remaja. Ia juga menekankan minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan berpotensi memengaruhi perilaku, prestasi, hingga kondisi psikologis anak. 

Pengasuhan berbasis hak anak menegaskan bahwa tanggung jawab membesarkan anak tidak hanya berada pada ibu, melainkan juga ayah, keluarga besar, komunitas, hingga negara. Pengasuhan dipandang perlu dilakukan melalui komunikasi efektif, kedisiplinan positif, dan penciptaan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak. 



Bela Negara Dimulai dari Rumah

Kegiatan diwarnau dengan diskusi interaktif mengenai perlindungan anak, pendidikan karakter, serta penguatan nilai kebangsaan di lingkungan keluarga.

Pesan yang mengemuka sepanjang forum itu relatif serupa: bela negara tidak selalu diwujudkan dalam bentuk besar atau simbolik. Ia dapat dimulai dari hal paling dekat—orang tua yang hadir mendengar anaknya, keluarga yang peduli ketika anak pulang terlambat, dan lingkungan yang ikut menjaga proses tumbuh kembang generasi muda.

Sebab, bagi para peserta, keluarga yang kuat dipandang menjadi fondasi awal lahirnya masyarakat yang tangguh dan bangsa yang berdaya tahan.


Galeri :



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Muck Rack

HUKUM

EVENT

Video

×
Berita Terbaru Update