-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Header Ads

Suprayitno, 'Gaek' yang Tak Kenal Lelah Lawan Zona Merah Jambi

Senin, September 14, 2026 | 10.58 WIB | Last Updated 2026-09-14T03:58:27Z


GEN-ID ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ | JAMBI – Usianya hampir 77 tahun. Tubuhnya memang tak lagi sekuat ketika muda, namun semangat perjuangannya justru seolah tak pernah menua.


Dialah Suprayitno, warga Kenali Asam yang kini menjadi salah satu sosok yang konsisten berada di garis depan perjuangan Forum Warga Tolak Zona Merah Jambi. Di tengah polemik pemblokiran sertifikat hak milik (SHM) warga, Suprayitno tetap lantang menyuarakan apa yang diyakininya sebagai hak masyarakat.


Setiap aksi digelar, sosok yang akrab disapa Pak Prayit itu hampir selalu hadir. Di bawah terik matahari, ia berdiri bersama warga, menyampaikan aspirasi, berorasi, hingga mengikuti berbagai proses negosiasi dengan pihak terkait.


Dengan suara lantang, Suprayitno berkali-kali menyampaikan keyakinannya bahwa tanah yang ditempatinya bukan merupakan aset Pertamina.


“Tanah kami jelas bukan masuk aset Pertamina. Saya mendapatkan rekomendasi dari Pertamina bahwa tanah saya tidak masuk aset Pertamina. Sebelum mendapatkan sertifikat, pihak BPN dan Pertamina datang mengukur dan jelas di luar areal Pertamina. Kok sekarang baru diblokir. Saya sejak tahun 1960 tinggal di sana dan sudah bersertifikat hak milik,” tegasnya.


Bagi warga dan rekan-rekan seperjuangannya, kehadiran Suprayitno bukan sekadar sebagai peserta aksi. Ia telah menjadi simbol keteguhan dan penyemangat perjuangan.


Koordinator aksi Forum Warga Tolak Zona Merah Jambi, Derry Anandia, menyebut Suprayitno sebagai salah satu aktivis tertua dalam perjuangan tersebut.


“Beliau inspirasi kami, penyemangat perjuangan ini,” ujar Derry.


Hal senada disampaikan Korlap aksi, Asep Mulyana. Menurutnya, semangat Suprayitno tidak pernah kendor meskipun usianya sudah lanjut.


“Semangat Pak Prayit tak kendor walau sudah sangat tua. Beliau selalu aktif berada di tengah perjuangan kami,” katanya.


Bahkan, Suprayitno tercatat telah mengikuti sembilan kali aksi dan selalu terlibat dalam berbagai proses negosiasi. Ia juga turut melakukan perjalanan ke Jakarta untuk memperjuangkan persoalan sertifikat warga.


Bagi Suprayitno, usia bukan alasan untuk berhenti memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai hak.


“Saya akan melawan sampai titik darah penghabisan,” tegasnya penuh semangat.


Ketua Tim Advokasi Forum Tolak Zona Merah Jambi, Suhatman Pisang, mengaku kehadiran Suprayitno justru menjadi pemicu semangat bagi para pejuang lainnya.


“Saya selalu bersemangat dan pantang mundur begitu melihat Pak Prayit hadir di tengah-tengah kami,” ungkap Suhatman.


Sementara itu, aktivis Forum Tolak Zona Merah Jambi, Minhar, menilai semangat Suprayitno menjadi gambaran bahwa perjuangan mempertahankan hak tidak mengenal batas usia.


“Beliau seperti menampar anak-anak muda yang tidak mau berjuang bersama ketika tanah mereka dirampas oleh penguasa yang zalim,” katanya.


Tim hukum Forum Warga Tolak Zona Merah Jambi, Endang Kuswardhani, juga menyebut Suprayitno sebagai salah satu saksi sejarah mengenai status tanah yang selama ini dipersoalkan.


“Pak Prayit legenda, saksi sejarah bahwa tanah itu bukan milik Pertamina. Beliau punya bukti surat yang masih tersimpan rapi sejak tahun 1960. Makanya kami berjuang untuk melawan blokir sepihak itu,” ujarnya.


Perjuangan Suprayitno bersama warga tersebut kini menjadi gambaran bagaimana kegigihan seseorang dalam memperjuangkan hak yang diyakininya. Di usia yang tidak lagi muda, ia tetap memilih berdiri bersama masyarakat, mengikuti aksi, menghadiri negosiasi, bahkan menempuh perjalanan jauh demi menyuarakan aspirasinya.


Bagi para pejuang Forum Warga Tolak Zona Merah Jambi, Pak Prayit bukan sekadar peserta aksi. Ia telah menjadi simbol semangat, keteguhan dan pantang menyerah.


Pesannya sederhana namun kuat: selama hak yang diyakini belum mendapatkan kejelasan dan keadilan, perjuangan belum selesai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Muck Rack

HUKUM

EVENT

Video

×
Berita Terbaru Update