Kesbangpol Jakarta Timur Gandeng Ormas Bangun Ketahanan Sosial Hadapi Ancaman Ekstremisme
Laporan Utama | Mahar Prastowo, Ida Farida
GENERASI-ID🇮🇩| Jakarta Timur - Pagi itu Aula Bambu Apus, Gedung C Kantor Wali Kota Jakarta Timur, tidak dipenuhi aparat bersenjata. Tidak ada sirene. Tidak ada garis polisi. Tidak ada ancaman bom.
Yang hadir justru para pengurus organisasi masyarakat. Tokoh lingkungan. Perwakilan komunitas. Aparatur sipil. Mereka duduk mendengarkan materi tentang sesuatu yang tak terlihat, namun diam-diam dapat tumbuh: radikalisme.
Ancaman itu kini berubah wajah.
Jika dua dekade lalu publik mengenalnya lewat ledakan Bom Bali atau jaringan teror bersenjata, kini bibit ekstremisme sering muncul dalam bentuk yang jauh lebih sunyi—video singkat, propaganda media sosial, forum digital tertutup, hingga narasi kebencian yang berulang.
Karena itu, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur melalui Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) mengumpulkan 27 organisasi kemasyarakatan (Ormas) dalam sosialisasi pencegahan radikalisme dan terorisme di Kantor Wali Kota Jakarta Timur, Senin (25/5/2026).
Acara dibuka Sekretaris Kota Administrasi Jakarta Timur Eka Darmawan, mewakili Wali Kota Jakarta Timur. Hadir pula Plh Kepala Suku Badan Kesbangpol Jakarta Timur Ari Budi Yuswanto, serta narasumber dari Densus 88 Antiteror Polri dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta.
Namun inti kegiatan itu sesungguhnya bukan seminar biasa.
Yang sedang dibangun adalah pertahanan sosial masyarakat.
Radikalisme Berawal dari Pikiran, Bukan Ledakan
Dalam paparannya, Eka Darmawan mengingatkan bahwa radikalisme sering kali lahir dari pola pikir yang menghendaki perubahan secara instan melalui cara-cara ekstrem.
“Perkembangan zaman dan teknologi saat ini memberikan dampak besar, termasuk masuknya paham-paham radikal yang mengarah pada tindakan ekstrem dan melawan hukum,” kata Eka.
Pernyataan itu sejalan dengan Direktorat Pencegahan Densus 88 Antiteror Polri yang menjelaskan bahwa radikalisme berkembang melalui tahapan: intoleransi → radikalisme → ekstremisme → terorisme.
Ibarat gunung es, tindakan teror hanyalah puncaknya.
Di bawah permukaan terdapat intoleransi, eksklusivisme, pencarian identitas, hingga indoktrinasi.
Pemateri Densus 88 menunjukkan, proses seseorang terpapar radikalisme sering dimulai dari kondisi yang tampak biasa:
- merasa kesepian,
- frustrasi,
- tersisih dari lingkungan,
- kehilangan arah hidup,
- mencari jawaban atas persoalan pribadi.
Dari titik itu, ideologi ekstrem dapat masuk, membentuk loyalitas kelompok, lalu berkembang menjadi tindakan kekerasan.
Generasi Muda Jadi Sasaran Baru
Yang menarik perhatian peserta adalah pergeseran pola rekrutmen.
Paparan Densus 88 menyebut anak muda yang sedang mencari jati diri kini menjadi target utama penyebaran ideologi ekstrem. Bahkan perempuan dan anak mulai dilibatkan dalam aksi teror.
Fenomena ini diperkuat perubahan ruang penyebaran.
Dulu perekrutan berlangsung tertutup.
Kini berlangsung cepat melalui ruang digital. Penyebaran intoleransi dan radikalisme bergerak dalam hitungan detik.
Media sosial menjadi arena baru.
Narasi sederhana, potongan video emosional, atau teori konspirasi dapat menjadi pintu masuk.
Jakarta Timur Memilih Pendekatan Komunitas
Plh Kepala Suku Badan Kesbangpol Jakarta Timur Ari Budi Yuswanto mengatakan, pelibatan 27 Ormas bukan tanpa alasan.
Menurutnya, pencegahan radikalisme tidak cukup mengandalkan aparat.
Lingkungan sosial harus menjadi sistem deteksi dini.
“Tujuan akhirnya adalah mendorong peran aktif seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta mencegah berkembangnya paham radikalisme di lingkungan masyarakat,” ujarnya.
Kesbangpol menilai organisasi masyarakat memiliki posisi strategis karena paling dekat dengan warga.
Mereka mengenali perubahan perilaku remaja, dinamika lingkungan, hingga gejala konflik sosial lebih awal dibanding institusi formal.
Pendekatan ini juga sesuai dengan strategi nasional yang menempatkan tokoh masyarakat, organisasi sosial, penyuluh agama, perangkat wilayah, hingga komunitas lokal sebagai benteng ketahanan ideologi masyarakat.
Dari Aparat ke Warga: Tanggung Jawab Kolektif
Data historis Indonesia menunjukkan ancaman terorisme pernah menelan banyak korban—mulai dari Bom Bali 2002, Bom JW Marriott 2003, hingga Bom Surabaya 2018.
Tetapi pendekatan penanganan kini berubah.
Tak lagi hanya penindakan.
Pencegahan menjadi kata kunci.
Strategi yang dipaparkan Densus 88 menempatkan penguatan literasi, edukasi, toleransi, patroli siber, keluarga, sekolah, serta komunitas sebagai benteng awal.
Karena itu, forum seperti di Jakarta Timur bukan sekadar sosialisasi seremonial.
Ia merupakan upaya membangun masyarakat yang lebih peka.
Lebih waspada.
Lebih berani bertanya ketika menemukan perubahan perilaku yang tidak biasa.
Ancaman yang Datang Diam-Diam dari Ruang Digital
Tantangan terbesar hari ini mungkin bukan lagi jaringan teror yang bergerak sembunyi-sembunyi, melainkan perubahan cara berpikir yang tumbuh perlahan di ruang digital. Survei toleransi pelajar menunjukkan masih adanya kelompok muda yang rentan terhadap intoleransi dan pembenaran kekerasan atas nama identitas atau keyakinan. Sementara kemajuan teknologi membuka ruang baru bagi propaganda, perekrutan, hingga proses radikalisasi yang berlangsung tanpa batas wilayah dan waktu. Taufan Bakri dari Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) DKI Jakarta mengingatkan, ancaman terorisme tidak hanya merusak objek vital atau menimbulkan korban jiwa, tetapi juga menciptakan ketakutan, polarisasi sosial, gangguan ekonomi, hingga mengikis stabilitas keamanan nasional.
Data yang dipaparkan menunjukkan situasi di bawah permukaan yang perlu diwaspadai. Sebagian pelajar masih menyimpan sikap intoleran, sementara ruang digital semakin sering dimanfaatkan untuk penyebaran propaganda, perekrutan, pendanaan, hingga percepatan proses radikalisasi. Bahkan, indeks potensi radikalisme pada generasi muda dan warganet menunjukkan kerentanan yang tidak dapat dipandang sebelah mata.
Karena itu, menjaga Indonesia dari radikalisme barangkali tidak selalu dimulai dari operasi besar atau penangkapan pelaku. Ia bisa bermula dari rumah, sekolah, ruang kelas, grup percakapan, hingga keberanian masyarakat mempertanyakan informasi yang memecah belah. Jakarta Timur sedang mencoba membangun benteng itu: menjadikan organisasi masyarakat, tokoh agama, keluarga, dan warga sebagai mata sekaligus hati yang menjaga.
Sebab sejarah menunjukkan, ledakan besar hampir selalu diawali oleh kesunyian—ketika intoleransi dianggap biasa, kebencian dibiarkan tumbuh, dan lingkungan terlambat peduli.
Di tengah derasnya arus digital, pertarungan melawan radikalisme pada akhirnya bukan semata soal keamanan. Ia adalah perjuangan mempertahankan akal sehat, toleransi, dan keyakinan bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan fondasi Indonesia berdiri. Sebab sebuah bangsa tidak runtuh hanya karena serangan dari luar, tetapi bisa rapuh ketika kewaspadaan, empati, dan persatuan perlahan hilang dari dalam dirinya sendiri.
Catatan Akhir: Ancaman yang Tidak Selalu Berwajah Garang
Terorisme sering dibayangkan sebagai ledakan.
Padahal, sebelum ledakan terjadi, ada proses panjang: kebencian yang dipelihara, intoleransi yang dibiarkan, dan ketidakpedulian lingkungan.
Jakarta Timur tampaknya membaca persoalan itu dari hulunya.
Maka yang dikumpulkan bukan pasukan bersenjata.
Melainkan para pengurus Ormas.
Karena terkadang, pertahanan sebuah kota tidak dimulai dari pagar besi—melainkan dari warga yang mau saling menjaga.
Dan pencegahan terbesar terhadap radikalisme mungkin bukan rasa takut.
Melainkan masyarakat yang tetap waras, kritis, dan mau hidup berdampingan dalam perbedaan.
Daftar Organisasi Peserta Sosialisasi Peningkatan Kewaspadaan terhadap Ancaman Terorisme dan Gerakan Radikalisme Jakarta Timur Tahun 2026
1. FKKS – Forum Komunikasi Komite Sekolah
2. FORKKABI – Forum Komunikasi Kaum Betawi Indonesia
3. GMBI – Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia
4. FBR – Forum Betawi Rempug
5. DHD ’45 – Dewan Harian Daerah 45
6. PANDANESIA
7. LVRI – Legiun Veteran Republik Indonesia
8. PPM – Pemuda Panca Marga
9. FKPPI – Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI/POLRI
10. PP – Pemuda Pancasila
11. HBB – Horas Bangso Batak
12. PPBNI (Satria Banten)
13. IKBK – Ikatan Keluarga Besar Kailolo
M
14. ABI – Ahlul Bait Indonesia
15. PBB – Pemuda Batak Bersatu
16. RAPI – Radio Antar Penduduk Indonesia
17. MS3G – Majelis Silaturahmi Sholat Subuh Gabungan Ulama, Umara dan Masyarakat
18. GIBAS – Gabungan Inisiatif Barisan Anak Siliwangi
19. MADAS Nusantara – Madura Asli Nusantara
20. KOPIBABE – Komunitas Pelestari Budaya Betawi
21. FLO DKI Jakarta – Forum Lintas Ormas DKI Jakarta
22. HIMA PERSIS – Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam
23. TIB – Timur Indonesia Bersatu
24. AWPI – Asosiasi Wartawan Profesional Indonesia
25. LMND – Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi
26. PMI – Pemuda Muslimin Indonesia
27. PWI – Pokja Persatuan Wartawan Indonesia
28. PMKRI Jakarta Timur – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Jakarta Timur
(GI)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar