-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Header Ads

Membangun Kepercayaan antara Sekolah dan Orang Tua Demi Pendidikan yang Lebih Baik

Selasa, Agustus 04, 2026 | 11.55 WIB | Last Updated 2026-08-04T05:51:41Z
 


GEN-ID ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ | Jakarta - Pendidikan yang baik tidak hanya lahir dari ruang kelas. Ia tumbuh dari kepercayaan yang dibangun setiap hari antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Ketika ketiganya berjalan seiring, anak-anak memperoleh ruang yang lebih aman untuk belajar, bertumbuh, dan mempersiapkan masa depan.

Semangat itulah yang mengemuka dalam Roadshow Sinkronisasi Kepala Sekolah dan Komite Sekolah yang diselenggarakan Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS) Jakarta Timur, Selasa (4/8). Sejak pagi, ratusan kepala sekolah dan pengurus komite sekolah memenuhi aula kegiatan. Mereka datang bukan sekadar mengikuti agenda seremonial, melainkan menyamakan langkah untuk menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang.

Di tengah perubahan sosial, derasnya arus informasi, hingga persoalan kesehatan mental anak, hubungan antara sekolah dan keluarga menjadi semakin penting. Pendidikan tidak lagi dapat dipikul oleh sekolah seorang diri.

Ketua Umum FKKS Jakarta Timur, Syamsul Bahri, yang tampak selalu hadir bersama Sekjen Hj. Lusiawati, mengingatkan bahwa komite sekolah bukan sekadar pelengkap administrasi, melainkan mitra sejajar kepala sekolah dalam menghadirkan layanan pendidikan yang lebih baik.

Menurutnya, FKKS berkomitmen mendukung berbagai program pendidikan dan kegiatan sosial tanpa membebani orang tua peserta didik dengan pungutan ataupun pengajuan proposal dana. Bagi FKKS, kemajuan pendidikan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang dilandasi rasa saling percaya.

Pesan senada disampaikan Wakil Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Sarjoko. Ia menegaskan bahwa komite sekolah memiliki empat peran penting, yakni sebagai pemberi pertimbangan, pendukung, pengawas, dan mediator. Sementara kepala sekolah memegang tanggung jawab sebagai pemimpin manajerial sekaligus pemimpin akademik.

Dalam kesempatan itu, Sarjoko juga menjelaskan sejumlah kebijakan pendidikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, di antaranya perluasan program Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) hingga jenjang magister dan doktoral. Ia menegaskan pula bahwa pelaksanaan PPDB 2026 telah dijalankan secara transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bagi banyak orang tua, informasi yang jelas dan keterbukaan sekolah menjadi bagian penting dalam membangun rasa percaya. Karena itu, forum semacam ini tidak hanya menjadi ruang koordinasi antarpejabat, tetapi juga jembatan komunikasi antara sekolah dan masyarakat.

Wakil Wali Kota Jakarta Timur, Kusmanto, mengapresiasi kontribusi FKKS yang selama ini aktif mendukung berbagai program pemerintah, mulai dari kampanye anti-perundungan, pencegahan tawuran, penyuluhan bahaya narkoba, sinkronisasi pendidikan, hingga kegiatan sosial bersama PMI dan BAZNAS. Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi modal penting dalam membangun lingkungan belajar yang aman dan sehat bagi peserta didik.

Namun pendidikan tidak berhenti pada persoalan administrasi dan kurikulum. Dalam sesi-sesi berikutnya, peserta diajak melihat pendidikan secara lebih utuh.

Kasudin Pendidikan Jakarta Timur Wilayah II, Horale, mengajak sekolah dan orang tua memperkuat komunikasi dalam menghadapi kesenjangan mutu pendidikan, meningkatnya tekanan psikologis pada anak, serta perlunya menyatukan visi untuk mempersiapkan Generasi Emas Indonesia.

Sementara itu, Fatimatuzzahra memperkenalkan film "Akal Imitasi" sebagai media penguatan pendidikan karakter. Melalui pendekatan audio-visual, nilai-nilai kejujuran, empati, tanggung jawab, dan etika diharapkan lebih mudah diterima peserta didik dibanding sekadar disampaikan melalui ceramah.

Persoalan ketahanan pangan dan kepedulian terhadap lingkungan pun ikut menjadi bagian dari pendidikan. Penyuluh Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta Timur memperkenalkan konsep urban farming di sekolah melalui hidroponik, vertikal farming, dan aquaponik. Bukan sekadar mengajarkan cara menanam, tetapi juga menumbuhkan kepedulian anak terhadap lingkungan dan keberlanjutan pangan.

Di penghujung acara, diskusi berlangsung hangat. Berbagai pertanyaan bermunculan, menunjukkan bahwa kebutuhan terbesar dunia pendidikan bukan hanya regulasi baru, melainkan ruang dialog yang terbuka.

Pertemuan itu akhirnya menyisakan satu pesan sederhana: pendidikan adalah kerja bersama. Ketika sekolah mau mendengar orang tua, ketika komite sekolah mampu menjadi jembatan komunikasi, dan ketika pemerintah hadir sebagai penguat kebijakan, maka kepercayaan akan tumbuh. Dari kepercayaan itulah lahir lingkungan belajar yang lebih nyaman, lebih manusiawi, dan lebih berpihak pada masa depan setiap anak.





Laporan: Ida Farida 
Editor: Mahar Prastowo 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar


Muck Rack

HUKUM

EVENT

Video

×
Berita Terbaru Update