Catatan dari Roadshow FKKS Jakarta Timur di Aula SMKN 26 Rawamangun
Essai Mahar Prastowo
Pagi itu Aula SMKN 26 Rawamangun tidak terasa seperti ruang rapat. Tidak ada wajah-wajah tegang. Tidak ada suasana formal yang kaku. Yang terlihat justru obrolan akrab, saling menyapa, dan sesekali tawa yang pecah dari sudut-sudut ruangan.
Di aula itulah, Kamis (11/6/2026), para kepala sekolah dan pengurus komite sekolah dari Pulogadung, Matraman, dan Jatinegara berkumpul. Mereka datang membawa satu kata kunci: harmonisasi.
Kata itu terus berulang sepanjang Roadshow Forum Komunikasi Komite Sekolah (FKKS) Jakarta Timur.
Mungkin terdengar sederhana.
Tetapi dalam dunia pendidikan, harmonisasi sering kali menjadi sesuatu yang paling sulit diwujudkan.
Ketika sekolah dan komite berjalan sendiri-sendiri, masalah kecil bisa membesar. Salah paham mudah muncul. Komunikasi tersumbat. Kepercayaan menurun.
Karena itulah Ketua FKKS Jakarta Timur, H. Samsul Bahri, memilih menjadikan harmonisasi sebagai kata kunci roadshow yang menyasar 10 kecamatan di Jakarta Timur tersebut.
"Harmonisasi sekolah dengan komite sekolah bukan sekadar formalitas," katanya.
Ia tahu persis bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya ditopang ruang kelas, kurikulum, dan gedung sekolah. Pendidikan juga membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari kemitraan yang sehat.
Panggung kemudian beralih kepada Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana.
Ia dalam sambutannya menarik perhatian peserta dengan sepotong ucapan: "Matahari terbit dari timur."
Peserta tersenyum.
Jakarta Timur, menurut Nahdiana, sedang menunjukkan sesuatu yang patut dicontoh wilayah lain. Komite sekolah bergerak. FKKS aktif membangun komunikasi. Sekolah dan masyarakat mulai duduk bersama untuk menyelesaikan persoalan pendidikan.
"Jakarta Timur lebih dahulu bergerak dan menjadi panutan," ujarnya.
Nahdiana berbicara tanpa banyak jargon.
Pesannya sederhana.
Kepala sekolah tidak mungkin bekerja sendiri.
Komite sekolah bukan bawahan kepala sekolah. Bukan pula sekadar pelengkap administrasi.
Komite adalah mitra.
Setara.
Karena itu sekolah yang baik bukan hanya sekolah dengan gedung bagus atau fasilitas lengkap. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menjaga hubungan baik dengan komitenya.
Di tengah era digital yang serba terbuka, tantangan pendidikan juga berubah.
"Dulu anak-anak dituntut berpikir out of the box," kata Nahdiana.
Ia berhenti sejenak.
"Sekarang mereka sudah out of the world."
Tawa kecil terdengar.
Tetapi pesan yang disampaikan sangat serius.
Anak-anak hari ini hidup sebagai warga dunia. Mereka berinteraksi dengan informasi global setiap detik. Mereka mengenal dunia yang jauh lebih luas dibanding generasi sebelumnya.
Karena itu, kata Nahdiana, tidak boleh ada ruang kosong dalam pengawasan, pembinaan, dan komunikasi.
Hampir semua konflik pendidikan, menurutnya, berawal dari komunikasi yang macet.
Kalimat itu terasa mengena.
Sebab siapa pun yang pernah terlibat dalam dunia pendidikan tahu, persoalan besar sering kali lahir dari hal-hal kecil yang tidak pernah dibicarakan dengan baik.
Ketika giliran Wali Kota Jakarta Timur Munjirin berbicara, suasana menjadi lebih cair.
Ia mengaku ini bukan pertama kalinya menghadiri kegiatan Roadshow FKKS.
"Saya sudah yang kedua, sebelumnya di kecamatan Makasar" katanya.
Ia melihat sendiri hubungan kepala sekolah dan komite sekolah di Jakarta Timur semakin baik dan AKUR (Aman, Kondusif, Urusan Rapi).
Namun Munjirin tidak berhenti pada pujian.
Ia membawa cerita.
Tentang anak-anak dari keluarga penerima KJP yang sering kali kalah bersaing bukan karena kurang pintar, melainkan karena tidak memiliki akses yang sama terhadap bimbingan belajar dan try out.
Karena itulah Pemerintah Kota Jakarta Timur menggandeng berbagai pihak melalui program CSR untuk menghadirkan try out gratis.
Hasilnya nyata.
Ada siswa yang akhirnya berhasil masuk perguruan tinggi negeri.
Bagi Munjirin, kesempatan adalah kata yang sangat penting dalam pendidikan.
Anak dari keluarga sederhana harus memiliki peluang yang sama dengan anak dari keluarga mampu.
Ia juga bercerita tentang upaya mengatasi tawuran pelajar.
Bukan dengan pendekatan hukuman semata.
Tetapi dengan memberikan ruang.
Ada yang diarahkan ke olahraga tinju. Ada yang ke bela diri.
Energi mereka disalurkan.
Bakat mereka diberi panggung.
Dan hasilnya, ada yang berubah, dan menjadi atlet yang berprestasi.
"Itulah pentingnya memberi ruang positif," katanya.
Menjelang akhir sambutan, Munjirin mengajak sekolah dan komite sekolah ikut menyukseskan program pemilahan sampah yang sedang digencarkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Anak-anak, menurutnya, bisa menjadi agen perubahan.
Bukan hanya di sekolah.
Tetapi juga di rumah.
Mereka bisa menjadi duta pilah sampah bagi keluarganya sendiri.
Pendidikan karakter ternyata bisa dimulai dari tempat sampah.
Siang semakin beranjak.
Acara pembukaan hampir selesai.
Namun suasana justru mencapai puncaknya ketika Munjirin menutup sambutan dengan pantun.
Kalau jalan-jalan ke Cilacap,
dilanjutkan ke Probolinggo.
Usia Pak Samsul memang seperti gocap
tapi dari jauh seperti jigo.
Aula langsung pecah oleh tawa.
Semua mata tertuju kepada Samsul Bahri.
Yang disindir justru ikut tertawa paling lepas.
Suasana hangat itu menjadi penutup yang sempurna.
Tidak lama kemudian, seluruh peserta berdiri.
Dipimpin Samsul Bahri, mereka bersama-sama menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-63 kepada Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo.
Tepuk tangan bergema.
Barangkali itulah makna sebenarnya dari roadshow hari itu.
Bukan sekadar pertemuan formal.
Bukan sekadar agenda organisasi.
Melainkan ikhtiar mempertemukan banyak pihak yang memiliki tujuan yang sama: memastikan anak-anak Jakarta mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Karena pada akhirnya, keberhasilan sekolah tidak ditentukan oleh satu orang kepala sekolah.
Tidak juga oleh satu komite sekolah.
Pendidikan tumbuh dari kerja bersama.
Dari komunikasi yang terbuka.
Dari kemitraan yang saling percaya.
Dan dari Rawamangun pagi itu, pesan tersebut kembali ditegaskan: harmoni bukan pelengkap pendidikan.
Harmoni adalah fondasinya.
(MP)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar