GEN_ID🇮🇩 | BOLAANG MONGONDOW — Musyawarah pemilihan Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Bolaang Mongondow periode 2026–2030 yang digelar Kamis, 30 April 2026, berlangsung tanpa kompetisi terbuka. Forum yang dilaksanakan di kediaman Sutarmin—tokoh Persinas ASAD Bolaang Mongondow—menetapkannya sebagai ketua baru secara aklamasi.
Keputusan tersebut diambil dalam forum yang dihadiri langsung Ketua IPSI periode sebelumnya, Teguh Krisjati, bersama Ketua Bidang Prestasi KONI Bolaang Mongondow sekaligus Ketua Perguruan Silat Gayuda, Budi Mokolanot. Perwakilan perguruan lain turut hadir, antara lain dari Persinas ASAD melalui Warto Saputro serta unsur PSHT Bolaang Mongondow.
Sejumlah pemilik hak suara yang tidak hadir secara fisik tetap dilibatkan melalui sambungan video call, termasuk dari perguruan Macan Hitam dan Pagar Nusa. Mekanisme ini menjadi salah satu catatan penting dalam proses musyawarah, mengingat validitas partisipasi jarak jauh kerap menjadi sorotan dalam forum organisasi olahraga.
“Musyawarah berjalan sesuai kesepakatan bersama, dan keputusan diambil secara aklamasi,” ujar Teguh Krisjati di hadapan peserta, menegaskan legitimasi forum.
Sutarmin, yang sebelumnya dikenal sebagai Ketua Persinas Asad Bolmong, tidak menghadapi kandidat lain dalam proses pemilihan. Minimnya kontestasi ini memunculkan pertanyaan klasik: apakah konsolidasi internal telah matang, atau justru mencerminkan terbatasnya kaderisasi di tubuh IPSI Bolmong?
Di sisi lain, sejumlah perwakilan perguruan menyampaikan harapan sekaligus tekanan moral kepada kepemimpinan baru. “Kami berharap ketua terpilih bisa menginventarisir seluruh perguruan pencak silat di Bolmong dan membawa prestasi yang lebih baik ke depan,” kata salah satu perwakilan perguruan dalam forum tersebut.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Selama beberapa tahun terakhir, dinamika antarperguruan dan belum terpetakannya secara komprehensif basis atlet serta potensi daerah kerap menjadi kendala dalam pembinaan prestasi. Sinkronisasi data perguruan, pembinaan atlet usia dini, hingga konsistensi keikutsertaan dalam kejuaraan tingkat provinsi dan nasional menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas.
Sutarmin sendiri belum menyampaikan peta jalan rinci pasca terpilih. Namun, dengan mandat aklamasi yang diterimanya, ekspektasi publik silat di Bolaang Mongondow kini bertumpu pada langkah konkret: membangun tata kelola organisasi yang lebih transparan, inklusif, dan berorientasi prestasi.
Di tengah euforia pemilihan tanpa rival, satu pertanyaan mengemuka—apakah aklamasi akan berbanding lurus dengan akselerasi prestasi, atau justru menyisakan ruang kritik atas minimnya kompetisi gagasan dalam tubuh organisasi? Waktu yang akan menjawab. (SA)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar