Di bulan Ramadan, para pesilat itu memilih turun langsung ke jalan. Mereka menyapa pengendara ojek, sopir angkutan kota, hingga warga yang masih berada di perjalanan. Bagi mereka, berbagi takjil bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan cara sederhana mencari keberkahan dan menumbuhkan rasa kepedulian.
Ketua IPSI Kota Bitung, Randi Marwan, mengatakan Ramadan selalu menjadi momentum untuk memperkuat nilai persaudaraan dalam dunia pencak silat. “Pesilat diajarkan bukan hanya kuat secara fisik, tetapi juga memiliki hati yang peka terhadap sesama. Melalui kegiatan ini kami ingin berbagi kebahagiaan kepada masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri pembina Pengprov Persinas ASAD Sulawesi Utara Ahmad Fauzi, Ketua Pengprov Persinas ASAD Sulut Nyoto, serta Sekretaris Pengprov Persinas ASAD Sulut Ardi Bumi Mustamin bersama jajaran pengurus IPSI Kota Bitung.
Menurut Ahmad Fauzi, pencak silat tidak hanya bicara soal teknik bela diri atau prestasi di gelanggang. “Nilai utama yang diajarkan adalah akhlak. Ramadan menjadi waktu terbaik untuk menanamkan kepedulian sosial kepada para pesilat agar mereka hadir membawa manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Sore itu, pembagian takjil berlangsung sederhana namun penuh kehangatan. Di antara riuh kendaraan dan senyum warga yang menerima bingkisan berbuka, para pesilat merasakan makna Ramadan yang sesungguhnya: berbagi rezeki, merawat persaudaraan, dan menjemput keberkahan dengan cara yang paling sederhana—meringankan beban orang lain.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar